• BKKBN

    BKKN (Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional) adalah sebuah Lembaga Pemerintah Non Departemen Indonesia yang bertugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang keluarga berencana dan keluarga sejahtera....

  • GenRe

    GenRe adalah sebuah program dari BKKBN. GenRe itu kepanjangan dari Generasi Berencana. GenRe adalah program untuk remaja agar bisa menyiapkan kehidupan keluarganya kelak sehingga mampu melaksanakan pendidikan, karir, dan pernikahan terencana. ...

  • Salam GenRe

    Salam GenRe memiliki makna untuk me-nol-kan atau menghindari free seks, HIV AIDS, dan NAPZA....

Tampilkan postingan dengan label Sosial. Tampilkan semua postingan

Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional


Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (dahulu Badan Koordinasi Keluarga Berencana Nasional), disingkat BKKBN, adalah Lembaga Pemerintah Non Departemen Indonesia yang bertugas melaksanakan tugas pemerintahan di bidang keluarga berencana dan keluarga sejahtera. Kepala BKKBN saat ini adalah Dr. Sugiri Syarief, MPA.
BKKBN pernah sukses dengan slogan dua anak cukup, laki-laki perempuan sama saja. Namun, untuk menghormati hak asasi manusia, kini BKKBN memiliki slogan dua anak lebih baik.

Tugas dan Fungsi

Tugas

Melaksanakan tugas pemerintahan dibidang keluarga berencana dan keluarga sejahtera sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku

Fungsi

  1. Pengkajian dan penyusunan kebijakan nasional di bidang Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera.
  2. Koordinasi kegiatan fungsional dalam pelaksanaan tugas BKKBN.
  3. Fasilitasi dan pembinaan terhadap kegiatan instansi pemerintah, swasta, LSOM dan masyarakat dibidang Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera.
  4. Penyelenggaraan pembinaan dan pelayanan administrasi umum dibidang perencanaan umum, ketatausahaan, organisasi dan tatalaksana, kepegawaian, keuangan, kearsipan, hukum, persandian, perlengkapan dan rumah tangga.

Kewenangan

  1. Penyusunan rencana nasional secara makro dibidangnya.
  2. Perumusan kebijakan dibidangnya untuk mendukung pembangunan secara makro.
  3. Perumusan kebijakan pengendalian angka kelahiran dan penurunan angka kematian ibu, bayi dan anak.
  4. Penetapan sistem informasi dibidangnya.
  5. Kewenangan lain sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku, yaitu :
  • Perumusan dan pelaksanaan kegiatan tertentu dibidang Keluarga Berencana dan Keluarga Sejahtera
  • Perumusan pedoman pengembangan kualitas keluarga

Sumber : wikipedia

Apa Itu GenRe?

Kepanjangan Genre | Apa Itu Genre | Definisi Genre | Arah Program | Tujuan | Sasaran | Pemuda Berencana | Pengertian Generasi Berencana
Ada yang tahu apa kepanjangan dari GENRE? GenRe adalah kepanjangan dari Generasi Berencana. GenRe adalah suatu program di bawah naungan BKKBN yang dikembangkan dalam rangka penyiapan dan perencanaan kehidupan berkeluarga bagi remaja. 
Genre dalam bentuk subjek didefinisikan adalah remaja dan pemuda yang memiliki pengetahuan, bertindak dan berperilaku sebagai remaja untuk menyiapkan dan perencanaan menuju keluarga berencana. berikut Tujuan, Sasaran serta arah program Genre:

Tujuan

Genre bertujuan untuk memfasilitasi remaja agar belajar memahami dan mempraktikan perilaku hidup sehat dan berakhlak untuk mencapai ketahanan remaja sebagai dasar mewujudkan Generasi Berencana

Sasaran

Genre memiliki sasaran:
    - Remaja (10-24 tahun) dan belum menikah
    - Mahasiswa/Mahasiswi belum menikah
    - Keluarga / Keluarga yang punya remaja
    - Masyarakat yang peduli terhadap remaja

Arah Program Genre

Kepanjangan Genre | Apa Itu Genre | Definisi Genre | Arah Program | Tujuan | Sasaran | Pemuda Berencana | Pengertian Generasi Berencana
Pik Remaja/Mahasiswa adalah suatu wadah dalam program GenRe, untuk memberikan pelayanan informasi dan konseling tentang kesehatan reproduksi serta kegiatan-kegiatan penunjang lainnya

BKR (bina keluarga remaja) adalah suatu kelompok/wadah kegiatan yang dilakukan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan perilaku orang tua remaja dalam rangka pembinaan tumbuh kembang remaja

Tips Merancang Pernikahan Agar Tidak Stres



Merencanakan pernikahan dengan kekasih merupakan momen yang menyenangkan sekaligus bisa membuat stres. Tidak jarang, pertengkaran demi pertengkaran datang saat persiapan pernikahan.

Banyak juga kasus, pasangan tidak jadi menikah karena terlalu banyak yang diributkan saat menyusun rencana pernikahan. Bagaimana cara merencanakan pernikahan agar pasangan tidak dilanda stres? Berikut ini tipsnya dari She Knows.

1. Mematuhi Bujet yang Ditentukan
Sebelum merencanakan pernikahan, diskusikanlah dengan pasangan berapa bujet yang ingin dikeluarkan. Setelah mendapatkan angka yang disepakati, maka perhitungkanlah pengeluaran Anda. Jangan tergoda untuk memilih busana pengantin atau vendor katering di luar bujet. Hal tersebut bisa membuat Anda stres. Dengan mematuhi bujet maka akan terbebas dari rasa stres akibat pengeluaran yang melebihi kemampuan.

2. Rencana
Setelah budget ditentukan, Anda dan pasangan dapat mulai merencanakan pernikahan, misalnya konsep pesta. Jika ada bujet lebih, Anda bisa menyewa wedding organizer (WO) untuk mengatur hari spesial tersebut. Jika tidak ingin memakai jasa WO, Anda harus pintar-pintar mencari harga termurah dengan membanding-bandingkannya. Brosing lewat internet dan bertanya dengan teman yang sudah menikah akan mempermudah Anda.

3. Jangan Mudah Terpengaruh
Saat merencanakan pernikahan, pastinya banyak pihak yang terlibat, seperti keluarga dan sahabat. Terkadang Anda jadi menginginkan konsep dari mereka, padahal konsep seperti mereka di luar bujet Anda. Bertanya tentang detail-detail pernikahan boleh saja, namun jangan sampai Anda malah jadi terpengaruh apalagi tidak sesuai dengan bujet.

4. Waktu Kerja Efisien
Daripada panik mengerjakan rencana pernikahan saat hari pernikahan sudah kian dekat, lebih baik Anda dan pasangan sudah mulai mengerjakannya satu tahun atau beberapa bulan sebelum hari H. Hal tersebut akan membuat Anda memiliki waktu senggang ketika hari pernikahan sudah mendekat dan memiliki rencana cadangan jika tiba-tiba masalah datang.

Sumber : detik.com

Pernikahan Dini, Lebih Banyak Dampak Negatifnya


BANYAK hal yang harus dipertimbangkan saat memutuskan untuk menikah. Salah satunya adalah menyangkut tentang usia.

Pernikahan sedianya dilakukan saat usia pria dan wanita matang dan tidak di bawah umur. Hal ini dimaksudkan dampak negatif dari pernikahan yang dijalani tak muncul berlebihan. Terlepas dari harapan tersebut, realitanya saat ini ialah masih banyak anak yang melakukan pernikahan di bawah umur, terutama mereka yang tinggal di daerah dan kurang memahami dampak yang terjadi nantinya.

Hal ini tentu saja ini juga membawa keprihatinan bagi Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Linda Amalia Sari Gumelar.

“Sangat prihatin. Kita bisa melihat nilai negatifnya dari tiga sisi,” katanya saat ditemui Okezone secara eksklusif di kantor Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Jakarta Pusat, belum lama ini.

Menurutnya, secara psikologi hal tersebut tentunya berpengaruh pada kondisi mental yang masih labil serta belum adanya kedewasaan dari si anak. Dikhawatirkan, keputusan yang diambil untuk menikah adalah keputusan remaja yang jiwa dan kondisi psikologisnya belum stabil. Jadi, keputusannya bukan orang dewasa yang belum menyadari bahwa menikah adalah suatu keputusan besar dimana akan menimbulkan hak dan kewajiban dalam perkawinan yang dijalaninya.

Selain itu, Linda juga mengatakan kalau pernikahan di usia belia berbahaya bagi kesehatan.  Apalagi perempuanlah yang cukup banyak memiliki risiko seperti pada kandungan dan kebidanannya. Sebab, secara medis menikah di usia tersebut dapat mengubah sel normal (sel yang biasa tumbuh pada anak-anak) menjadi sel ganas yang akhirnya dapat menyebabkan infeksi kandungan dan kanker. Sedangkan untuk kebidanan, hamil di bawah usia 19 tahun tentunya sangat beresiko pada kematian. Terlebih secara fisik remaja belum kuat yang pada akhirnya bisa membahayakan proses persalinan.

“Hal tersebut sangat memprihatinkan mengingat kita berupaya menekan angka kematian,” imbuhnya.

Sementara dari sisi ekonomi, Linda mengakui kalau perkawinan yang dilakukan di bawah umur sering kali belum mapan dalam memenuhi kebutuhan tersebut. Sehingga ini pun dikhawatirkan akan menjadi penyebab timbulnya kekerasan dalam rumah tangga. 

Minum Alkohol di Usia Muda, Tingkatkan Resiko Kanker Payudara


Tak hanya pria, wanita juga banyak yang gemar minum alkohol dengan berbagai alasan misalnya untuk meringankan beban masalahnya. Tapi, yang perlu diperhatikan bahwa perempuan muda yang teratur minum alkohol berisiko lebih tinggi terkena kanker payudara.
Berdasarkan studi Journal of the National Cancer Institute, wanita yang minum alkohol setiap hari termasuk saat sedang menstruasi dan berlanjut hingga beberapa bulan pertama kehamilannya memiliki risiko terkena kanker payudara 13 persen lebih tinggi.


Temuan ini berdasarkan survei terhadap 91.005 ibu dalam studi kesehatan utama di AS tahun 1989-2009. Para peneliti juga menemukan bahwa setiap tambahan alkohol yang diminum sesekali seperti bir, anggur, atau minuman keras lainnya, bisa meningkatkan risiko penyakit payudara jinak proliferatif sebesar 15 persen.


Menurut para ahli di Washington University School of Medicine, penyakit jinak itu juga berkontribusi untuk meningkatkan risiko payudara. Sel-sel jaringan di payudara perempuan muda sangat rentan terhadap kanker karena sel kanker bisa tumbuh dengan cepat dan terus berkembang biak selama masa remaja dan seterusnya.


Faktor lainnya yaitu panjangnya jangka waktu antara periode menstruasi pertama dan proses melahirkan yang pertama. Perpanjangan waktu ini kerap menjadi sebuah tren yang mungkin berlanjut ketika banyak wanita yang menunda kehamilannya.


"Mengurangi minum alkohol kurang dari satu gelas per hari, khususnya selama selang periode awal menstruasi dan melahirkan pertama merupakan strategi kunci untuk mengurangi risiko kanker payudara seumur hidup," kata penulis studi Graham Colditz, wakil direktur pencegahan kanker di Siteman Cancer Center di Barnes-Jewish Hospital dan Washington University School of Medicine.


Seperti ditulis Medindia, Jumat (30/8/2013), penelitian sebelumnya telah menemukan hubungan antara minum alkohol di masa dewasa dengan risiko kanker payudara yang lebih tinggi.


"Semakin banyak remaja-remaja di kampus yang minum alkohol dengan kadar tinggi dan banyak yang tidak mempertimbangkan risiko di masa depan," kata Colditz.


Otoritas kesehatan mengatakan sekitar satu dari delapan perempuan berisiko terkena kanker payudara dalam hidup mereka. Selain kebiasaan minum alkohol, ada faktor penting lainnya yang bisa meningkatkan risiko kanker payudara.


Faktor tersebut meliputi usia, riwayat keluarga, memiliki payudara yang padat, terlambat menopause, waktu pertama kali menstruasi, mempunyai anak setelah usia 30 tahun, tidak pernah punya anak, dan obesitas.